Saat ini, wilayah Nagara terbagi menjadi tiga kecamatan yakni Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara dan Daha Barat.
Berdasarkan cerita dari berbagai sumber, Kerajaan Nagara Daha merupakan pendahulu sebelum kesultanan Banjar.
Pusat pemerintahan kerajaan Nagara Daha berada di Muara Hulak yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Daha Selatan.
Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari kisah kerajaan Nagara Dipa yang saat itu pusat pemerintahannya di Kuripan yang saat ini dikenal sebagai kota Amuntai.
Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari kisah kerajaan Nagara Dipa yang saat itu pusat pemerintahannya di Kuripan yang saat ini dikenal sebagai kota Amuntai.
Kerajaan Nagara Daha termasuk kerajaan yang penuh misteri, keberadaannya seperti ditelan bumi karena tidak ada peninggalan yang nyata.
Menyusuri jejak kerajaan Nagara Daha saat ini memang tidak ada bukti sejarah yang tersisa, seperti bentuk kerajaan atau lokasi peninggalannya ada di wilayah mana.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan HSS Sri Wiyono mengatakan sejauh ini pihaknya belum mempunyai bukti nyata sejarah kerajaan Nagara Daha selain dari sumber cerita.
Namun dikatakannya bahwa pernah dari Balai Arkeolog Banjarbaru yang pernah melakukan penelitian di wilayah Nagara sekitar 2011.
"Pernah ditemukan pecahan-pecahan keramik di wilayah Desa Bejayau Kecamatan Daha Barat," katanya, kemarin.
Camat Daha Barat Kusairi mengatakan kisah kerajaan Nagara Daha dapat dilihat dibuku sejarah orang Banjar.
Dia yang pernah membaca buku itu mengatakan Kerajaan Daha itu merupakan lanjutan dari Kerajaan Negara Dipa di Amuntai.
Raja pertama Kerajaan Nagara Daha adalah Ratu Kalungsu yang merupakan cucu dari Ratu Junjung Buih dan Pangeran Suryanata pendiri Kerajaan Nagara Dipa.
Raja terakhir Kerajaan Daha adalah Raden Samudera yang kemudian memindahkan Kerajaannya ke Kuin Banjarmasin dan masuk Islam dengan nama Sultan Suryansyah.(aprianto/banjarmasinpost.co.id)
"Saat ini sulit mencari sumber yang mengetahui secara persis cerita kerajaan Daha. Ceritanya bisa dicari hanya lewat baca buku sejarah orang Banjar," katanya (Rian)
Menyusuri jejak kerajaan Nagara Daha saat ini memang tidak ada bukti sejarah yang tersisa, seperti bentuk kerajaan atau lokasi peninggalannya ada di wilayah mana.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan HSS Sri Wiyono mengatakan sejauh ini pihaknya belum mempunyai bukti nyata sejarah kerajaan Nagara Daha selain dari sumber cerita.
Namun dikatakannya bahwa pernah dari Balai Arkeolog Banjarbaru yang pernah melakukan penelitian di wilayah Nagara sekitar 2011.
"Pernah ditemukan pecahan-pecahan keramik di wilayah Desa Bejayau Kecamatan Daha Barat," katanya, kemarin.
Camat Daha Barat Kusairi mengatakan kisah kerajaan Nagara Daha dapat dilihat dibuku sejarah orang Banjar.
Dia yang pernah membaca buku itu mengatakan Kerajaan Daha itu merupakan lanjutan dari Kerajaan Negara Dipa di Amuntai.
Raja pertama Kerajaan Nagara Daha adalah Ratu Kalungsu yang merupakan cucu dari Ratu Junjung Buih dan Pangeran Suryanata pendiri Kerajaan Nagara Dipa.
Raja terakhir Kerajaan Daha adalah Raden Samudera yang kemudian memindahkan Kerajaannya ke Kuin Banjarmasin dan masuk Islam dengan nama Sultan Suryansyah.(aprianto/banjarmasinpost.co.id)
"Saat ini sulit mencari sumber yang mengetahui secara persis cerita kerajaan Daha. Ceritanya bisa dicari hanya lewat baca buku sejarah orang Banjar," katanya (Rian)
Sumber : Banjarmasin Post
Penulis: Aprianto
Editor: Didik Trio
Tidak ada komentar:
Posting Komentar